Selasa, 11 Desember 2012

cerpen_01


      BAYANG-BAYANG PUDAR
            (Cerpen Karya Sri Hastini, S. Pd.)
             
         Hari telah larut, namun seperti biasanya, Leva tak kuasa memejamkan matanya. Bayang-bayang  Fahri terus saja mengusik tidurnya. Ia sadar bahwa Fahri telah tiada, tapi untuk melupakan kenangannya ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Kejadian itu telah lama berlalu, tapi usaha Leva belum berhasil, ia belum mampu melupakan kekasihnya yang telah lama pergi ke sisi-Nya. Ia ingat betul sebelum Fahri pergi jauh, Fahri minta agar Leva menuliskan puisi untuknya. Leva menuliskan puisi cinta untuk Fahri. Dalam puisi itu Leva ungkapkan rasa kasihnya yang begitu dalam, meskipun Leva menyadari bahwa untuk mencintai Fahri butuh banyak pengorbanan. Leva juga menyadari bahwa Fahri bukan lelaki yang didambakan keluarganya. Leva telah dijodohkan dengan putra teman ayahnya sejak kecil. Dan Fahri tahu itu semua. Tapi bukan Fahri jika menyerah begitu saja.  Fahri terus meyakinkan keluarga Leva bahwa ia pantas menjadi pendamping hidup Leva. Fahri pun telah banyak berkorban untuk bisa mendapatkan restu orang tua Leva. Tapi apa daya, orang tua leva tetap pada pendiriannya.
            “Leva, rasanya aku tak sanggup lagi menaklukkan orang tuamu,” kata Fahri sedih.
            “Kamu nyerah, Fahri?” jawab Leva tak percaya.
            “Maafkan aku, Leva,” kata Fahri lirih. Ia tak kuasa melihat kesedihan di mata gadis yang begitu ia
kasihi. Fahri tahu, Leva pasti tak percaya dengan keputusannya.  Fahri sudah memikirkan akibatnya jika ia tetap keukeuh   bersama Leva, Leva pasti dikucilkan keluarganya. Fahri  tidak tega jika akhirnya Leva menderita akibat perbuatannya.
              “Leva, aku besok akan pergi jauh, bisakah kamu mengantarku sampai bandara?”
             “Kamu akan ke mana Fahri?”
             “Aku akan pergi ke suatu tempat. Aku telah bergabung sebagai relawan, Lev”
             “Untuk berapa lama?”
             “Aku belum tahu.” 
            “Kamu...kamu  tega sekali meninggalkanku, Fahri,” ucap Leva terisak.
            “Lev, ini pilihan hidupku, aku berharap kamu mengerti.  Kamu juga tahu kan, kalau orang tuamu tetap pada pendiriannya?Aku doakan kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu,”jawab Fahri.             Fahri berat sekali mengucapkan kalimat perpisahan itu. Tetapi itu harus ia lakukan karena ia tidak mungkin melawan kehendak orang tua Leva. Pada akhirnya, dia terpaksa mengalah. Dia tidak tahu, apakah bisa melupakan kekasihnya. Yang ia rasakan adalah kegagalan dalam memperjuangkan cintanya.
             “Leva, aku tidak ingin melihatmu menangis, terima saja ini semua sebagai takdir yang terbaik untuk kita,”ujar Fahri
              “Aku ingin takdirku bersamamu, Fahri., bukan pria lain!”                                                                     1                                       
             “Leva,  kita sama-sama tahu bagaimana perasaan kita. Aku pun berat sekali berpisah denganmu. Kamu pasti tahu itu, tapi aku pun harus melanjutkan hidupku dan begitu pun sebaliknya. Kita sudah berusaha Leva, tapi jodoh, hidup, dan mati itu bukan kita yang menentukan. Kamu tahu maksudku kan?”
             “Aku tahu Fahri, mungkin kita memang tidak berjodoh.Dan aku tidak tahu,butuh waktu berapa lama untuk bisa melupakanmu,”jawab Leva berlinang air mata.  
             “Leva, aku tidak mungkin bisa melupakanmu, melupakan kenangan- kenangan kita, kamu akan tetap di hatiku, sekarang dan untuk selamanya,” kata Fahri sedih. “Leva, tolong tuliskan puisi untukku sebagai kenang-kenangan terakhir.”Ia pun tak kuasa membendung air matanya. Ia tahu bahwa itu pertemuan terakhirnya dengan wanita yang dicintainya. Leva pun menuliskan puisi cintanya untuk Fahri sambil meneteskan air mata.
             “Ini Fahri puisi dariku. Bacalah di pesawat besok. Besok tunggu aku, Fahri, aku akan mengantarmu. ”
             “Terima kasih Leva, aku pulang dulu, jangan lupa besok jam delapan aku tunggu di bandara, bye leva!” Fahri meninggalkan Leva yang masih berdiri mematung di taman yang biasa dikunjungi mereka berdua.
             “Bye, Fahri,” ucap Leva lirih. Leva merasakan bahwa itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Fahri.
Waktu terus merangkak, tak terasa hari tlah berganti. Dan waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan. Mereka telah tiba di bandara. Leva  dan Fahri duduk termenung tanpa sepatah katapun terucap dari bibir mereka.  Mereka hanya saling memandang untuk mengungkapkan perasaan dan kesedihannya. Tak kuasa air mata mereka menetes.
“Leva, pulanglah, aku akan berangkat”
“Baiklah Fahri, selamat jalan, baca puisi dan suratku setelah kamu di pesawat, assalamualaikum!”
Fahripun berjalan menuju pesawat, sementara Leva terus memandangi Fahri sampai  bayangannya tak terlihat. Dengan langkah gontai Leva meninggalkan bandara. Ia tidak langsung pulang, tapi  langkahnya menuju taman yang biasa ia kunjungi bersama Fahri. Di taman itu, Leva teringat kembali awal pertemuannya dengan Fahri. Ya, awalnya Leva tak mempunyai perasaan apa pun terhadap Fahri. Tetapi kebaikan, perhatian, dan kekonyolannya membuat Leva tak berkutik ketika Fahri menyatakan perasaannya. Apalagi melihat ketaatan pada agamanya membuat Leva mantap melangkahkan kakinya bersama Fahri.Waktu itu Leva tidak tahu bila dirinya telah dijodohkan dengan  Ardi, putra teman ayahnya.
Sementara itu, di dalam pesawat Fahri membuka surat dan puisi yang ditulis Leva. Fahri membaca puisinya, ia tersentuh sekali sampai meneteskan air mata. Padahal ia tahu, Leva menulis puisi itu dihadapannya kemarin, dalam waktu sekejab, tapi  sangat mewakili perasaan mereka berdua. Surat yang ditulis Levapun tak mampu membendung air mata Fahri. Fahri membaca surat Leva. Kata demi kata, ia resapi maknanya.                                                                                                                                          2
Dear : Fahri
Ass. Wr.wb.
Bila waktu bisa diputar kembali, aku ingin menjadi bayanganmu, yang setiap saat selalu bersamamu, tanpa ada rasa takut kehilanganmu. Bila aku tahu bahwa kau hadir dalam hidupku untuk kemudian pergi…  tentu aku akan pergi dahulu, sebelum kau lihat air mataku.
Fahri…, selamat tinggal, aku tak tahu, butuh waktu berapa lama untuk bisa melupakanmu. Sampai saat aku menulis surat ini, perasaanku tetap sama, tak berubah.  Aku doakan semoga kamu bahagia di tempat tujuanmu.Aku tahu kau pergi untuk tujuan yang mulia.  Jangan lupa ibadahmu.   
Fahri…, tolong doakan aku, semoga takdirku lebih indah dari apa yang aku bayangkan.
Wassalam.                                                                                                                                                                                                                                 
           From : Leva
              Tak terasa sepuluh  tahun tlah berlalu.Dan ternyata perjodohan Leva gagal karena Ardi tahu Leva tidak mencintainya dan kebetulan Ardi di tugaskan kantornya di Irian Jaya. Di Irian, Ardi bertemu dengan Aveva, teman sekantor Ardi,  yang kemudian dipersunting menjadi istrinya. Sedangkan Leva masih tetap sendiri. Dia tidak memikirkan pernikahan. Hari-harinya ia habiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja. Orang tuanya pun telah mengingatkan Leva supaya memikirkan pernikahan, tapi leva tak mengiyakan saran orang tuanya.  Orang tuanya pun telah menyadari kekeliruannya dulu hingga Leva berpisah dengan Fahri yang kini tak tahu rimbanya. Sesungguhnya Leva telah berusaha membuka pintu hatinya untuk pria lain, tapi selalu gagal dan gagal. Ternyata rasa kasihnya pada Fahri belum seutuhnya hilang, hingga sulit untuk bisa menerima pria lain dengan segenap jiwa. Teman-teman sekantornya pun sering menjodohkan, tapi tak satu pun yang berhasil.
                 “Leva, ada surat di meja kamarmu, tapi tidak ada alamat pengirimnya,” kata ibu ketika Leva pulang dari kantor. Leva masuk ke kamarnya. Di ambilnya surat tanpa pengirim itu, kemudian Leva membacanya. Tangan Leva bergetar.
                  Untuk : Leva
                 Assalamualaikum.
                 Leva,jangan kaget,ini  aku, Fahri. Maaf nama pengirimnya sengaja tidak aku tulis. Leva, aku tidak tahu harus bicara dari mana, yang jelas aku jauh di sini tapi perasaanku tetap sama seperti  dulu. Aku tahu kalau kamu tidak berjodoh dengan Ardi. Aku tahu informasi itu dari teman kita, Anton, kira-kira dua minggu yang lalu. Saat aku tahu keadaanmu sekarang, aku tak tahu aku senang atau sedih, yang kutahu aku masih punya harapan padamu. Sejak saat itu, aku sering melihat profilmu di face book. Aku minta maaf karena begitu lama tak memberi  kabar padamu, aku takut jika mengganggumu dan aku ingin memberi  kejutan untukmu.  
                   Leva, seminggu lagi aku akan pulang, kamu mau menjemputku di bandara? Aku jadi ingat kenangan sepuluh tahun yang lalu di bandara. Saat itu aku merasa seperti tak akan bisa bertemu kamu lagi.                                                                                                                                                                              3
                  Leva, aku tahu sampai saat ini kamu masih sendiri. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku saat ini, yang aku tahu, sepuluh tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk membuktikan rasa kasihku padamu, dan juga rasa kasihmu terhadapku. Aku berharap, masih ada kesempatan kedua bagiku.
                  Leva…, perasaanku takkan pernah berubah. Tunggulah aku, kita wujudkan impian kita dulu yang sempat tertunda. Semoga Allah memudahkan rencana kita.
                 Wassalam.
                                                                                                                                      Dariku : Fahri
                 Begitu Leva selesai membaca surat itu,Leva menangis tersedu, kemudian  Leva berteriak memanggil ibunya.
                “Ibu…Ibu…!”
                 “Ada apa, Lev, kok berteriak kencang begitu?”
                “Ini, Bu. Surat dari Fahri! Seminggu lagi Fahri pulang, Bu, dia minta aku menjemputnya di bandara,” jawab Reva berbinar-binar. Ibunya baru melihat Reva sebahagia itu sejak sepuluh tahun belakangan ini. Ibunya tahu bahwa Leva masih mengharapkan Fahri.
                “Dari Fahri? Fahri akan kembali? Terima kasih ya, Allah, Kau kabulkan doaku,” jawab ibu sambil memeluk Leva.
                 Sejak mendapatkan surat itu, hati lajang berusia tiga puluh tahun itu pun berbunga-bunga. Ia membayangkan wajah Fahri dulu dengan segala kekonyolannya. Leva tersenyum sendiri  jika mengingatnya. Dan sepuluh tahun ia tak melihatnya, apakah ia berubah? Leva hanya bisa membayangkan  pertemuannya besok.  Ya, besok jam dua siang ia akan menjemput Fahri di Bandara. Ia akan menggunakan baju putih, warna kesukaan Fahri.
                  Di bandara. Jam dua telah lewat, Leva gelisah bukan main karena pesawat yang ditumpangi Fahri belum mendarat. Jam tiga berlalu, jam empat terlewati. Di saat orang-orang sedang gelisah tiba-tiba terdengar ledakan  sangat keras dari landasan pesawat. Tak lama kemudian  suasana bandara berubah mencekam dan  tak lama tangis pun pecah di mana-mana. Leva mendengar pengumuman bahwa pesawat yang ditumpangi Fahri gagal mendarat. Leva pun tak sadarkan diri.
                  “Leva…, bangun, Nak. Ini Ayah dan Ibu,” kata ibu terisak sambil membangunkan Leva dari pingsannya. Tak lama kemudian Leva sadar.
                 “Fahri mana, Bu? Fahri jadi pulang, kan Bu?” tanya Leva sambil mengguncang-guncangkan tangan ibunya.
                 “Leva, tabahkan hatimu, Nak,”
                 “Fahri suruh ke sini, Bu. Leva kangen sekali ingin  bertemu  Fahri,”
                 “Leva, Fahri telah pergi ke alam baqa,” jawab ibu terisak.                                                                 4
                 “Apa, Bu? Ke alam baqa? Fahri meninggal?”
                 “Benar, Leva. Kamu yang tabah ya, doakan supaya Fahri bahagia di sisi-Nya.”
                 “Ibu, Fahri belum meninggal, dia bilang agar Leva menjemputnya di bandara, kok!”
                 “Leva, Ibu tahu kamu belum bisa menerima kenyataan ini, tapi ibu tidak mau membohongimu, Nak. Fahri benar-benar telah meninggal, Lev,” kata Ibu terisak.
                  Setelah Leva mendengar kalimat terakhir ibunya, ia baru sadar bahwa Fahri benar-benar telah tiada. Levapun menangis pilu dalam pelukan ibunya. Ayahnya pun menitikkan air matanya. Ia tak tega melihat kesedihan anak semata wayangnya itu. Anaknya yang belum sempat  merasakan kebahagian yang baru saja akan diraih. Tapi apalah daya, jodoh bukanlah manusia yang menentukan. Di balik peristiwa itu pasti ada hikmahnya. Ia harus bisa membangkitkan semangat hidup anak gadisnya. Ia tak boleh terlihat lemah.
                “Ayah, apakah Fahri telah dimakamkan? Aku ingin salat jenazah, Yah!”
  “Belum dimakamkan, Lev. Mari kita salat jenazah,” jawab ayah Leva sambil membimbing tangan Leva.
  “Ayah, bolehkan aku mengantar jenazah Fahri?”  tanya Leva dengan mata menerawang sambil berjalan di sisi ayahnya.
  “Boleh Leva, nanti ayah akan minta izin pada keluarga Fahri,” jawab ayah Leva dengan sabar.
  “Ayah, bolehkah Leva …e…Leva  menyusul Fahri? Leva ingin pergi bersama Fahri, Yah. Sudah lama sekali Leva  menunggu Fahri  !”
  “Leva…,Leva…, sadarlah, Nak!” jawab ayahnya terisak sambil membimbing  tangan anaknya.
  “Ayah…itu Fahri melambaikan tangannya padaku, Yah!” teriak Leva dengan mata nanar.
  Dan  lorong rumah sakit itu kini sunyi, sepi. Hanya tampak seorang lelaki tua membimbing putrinya   berjalan  menjauh. 


Sri Hastini, S.Pd. adalah Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 9 Purworejo
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar